Rumah yang Membaca: Ketika Buku dan Keluarga Menumbuhkan Masa Depan
Hendarmoko, S.Si., M.Pd.
Hendarmoko, S.Si., M.Pd.
Setiap tanggal 17 Mei diperingati sebagai Hari Buku Nasional, dan setiap tanggal 29 Mei diperingati sebagai Hari Keluarga Nasional sering kali lewat begitu saja, mungkin karena info tersebut tidak tercantum di kalender. Padahal, jika direnungkan lebih dalam, keduanya menyimpan satu pesan sederhana namun kuat, yaitu masa depan bangsa bertumbuh dari rumah yang akrab dengan buku.
Membaca buku bukan sekadar aktivitas akademik, tapi juga sebagai jendela yang membuka cara pandang, memperluas empati, dan menumbuhkan daya pikir. Namun, kebiasaan membaca tidak lahir begitu saja. Ia tumbuh dari lingkungan terdekat, dan keluarga adalah tanah pertama tempat benih itu ditanam.
Seorang anak yang melihat orang tuanya membaca, meski hanya beberapa halaman setiap hari, akan menangkap pesan tanpa kata: bahwa membaca itu penting. Sebaliknya, ketika buku hanya disimpan atau sekedar menjadi pajangan, maka membaca pun terasa tidak berselera. Terlebih jika di rumah tidak ada buku sama sekali, maka kegiatan membaca dianggap kegiatan yang asing. Di sinilah peran keluarga menjadi sangat krusial. Dukungan keluarga bukan selalu soal fasilitas mewah atau koleksi buku yang banyak, tetapi tentang kebiasaan kecil yang konsisten.
Bayangkan suasana sederhana di rumah: orang tua membacakan cerita sebelum tidur, berdiskusi ringan tentang isi buku, atau sekadar menyediakan waktu tanpa gawai untuk membaca bersama. Aktivitas-aktivitas ini mungkin terlihat sepele, tetapi dampaknya dalam jangka panjang sangat besar. Anak tidak hanya belajar membaca, tetapi juga belajar mencintai pengetahuan.
Momentum Hari Buku Nasional seharusnya tidak berhenti pada kampanye literasi di sekolah atau perpustakaan, namun juga perlu masuk ke ruang keluarga. Karena pada akhirnya, budaya membaca tidak bisa hanya dibebankan pada institusi pendidikan. Budaya membaca harus hidup di rumah.
Demikian pula Hari Keluarga Nasional mengingatkan kita bahwa keluarga bukan sekadar tempat tinggal, tetapi tempat tumbuh. Keluarga yang sehat bukan hanya yang terpenuhi kebutuhan fisiknya, tetapi juga yang menghidupkan percakapan, pengetahuan, dan nilai-nilai kehidupan. Buku bisa menjadi jembatan yang mempererat hubungan itu.
Di tengah arus digital yang serba cepat, tantangan membaca memang semakin besar. Gawai menawarkan hiburan instan yang sering kali lebih menarik dibandingkan membaca buku digital, terlebih buku cetak. Namun justru di sinilah peran keluarga diuji: apakah akan menyerah pada arus, atau menciptakan ruang alternatif yang lebih bermakna?
Membangun budaya membaca di keluarga cukup dimulai dari langkah kecil: satu buku, satu cerita, dan satu waktu bersama. Dari situ, perlahan akan tumbuh kebiasaan. Dari kebiasaan, lahir karakter. Dan dari karakter, terbentuk masa depan.
Karena pada akhirnya, anak-anak tidak hanya tumbuh dari apa yang diajarkan, tetapi dari apa yang mereka lihat dan rasakan. Jika rumah menjadi tempat yang hangat bagi buku, maka membaca bukan lagi kewajiban, melainkan kebutuhan.
Maka, ketika Bulan Mei menghadirkan dua momen ini, mungkin yang perlu kita tanyakan bukan sekadar “sudahkah kita membaca?”, tetapi “sudahkah rumah kita menjadi tempat yang mencintai buku?”
Daftar Pustaka / Rujukan:
1. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan.
2. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2023). Gerakan Literasi Nasional.
3. Badan Pusat Statistik. (2022). Statistik Sosial Budaya: Minat Baca Masyarakat Indonesia.
4. UNESCO. (2021). Literacy for Life: Global Perspectives on Reading Habits.
5. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. (2022). Pedoman Penguatan Peran Keluarga dalam Pendidikan Anak.
