Datang untuk Membaca, Pulang Membawa Perubahan
Hendarmoko, S.Si., M.Pd.
Berawal dari dari Ketetapan Presiden Soeharto kepada Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI dengan surat nomor 020/A1/VIII/1995 pada tanggal 11 Agustus 1995. Dalam surat tersebut berisi tentang usulan pencanangan hari kunjung perpustakaan pada tanggal 14 September 1995, maka setiap tanggal 14 September diperingati sebagai Hari Kunjung Perpustakaan. Gagasannya sederhana tetapi mendalam, yaitu mendorong masyarakat gemar mengunjungi perpustakaan dan membaca sebagai jalan meningkatkan produktivitas serta mewujudkan cita-cita bangsa.
Setelah tiga dekade berlalu, pertanyaan penting perlu diajukan: mengapa kita masih perlu mengajak orang datang ke perpustakaan?
Jawabannya karena perpustakaan bukan sekadar ruangan berisi buku. Perpustakaan adalah ruang untuk bertemu dengan pengetahuan, gagasan, pengalaman, dan perspektif yang mungkin tidak pernah kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Di tengah derasnya informasi digital, justru semakin penting memiliki tempat yang membantu kita menemukan informasi yang relevan, terpercaya, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Ironisnya, kemudahan memperoleh informasi melalui internet tidak otomatis membuat orang semakin dekat dengan perpustakaan. Banyak orang merasa cukup dengan mesin pencari dan media sosial. Padahal, mudah menemukan informasi tidak sama dengan mampu menemukan pengetahuan yang benar. Kemudahan memperoleh informasi tidak otomatis membuat seseorang mampu memahami, mengevaluasi, dan membedakan informasi yang benar dari yang menyesatkan. Justru di sinilah perpustakaan semakin penting dalam membangun kemampuan membaca, memilih, memahami, dan menggunakan informasi secara bijak.
Statistik Perpusnas menunjukkan jumlah pengunjung berfluktuasi, bahkan turun dari 593.167 pada 2017 menjadi 273.423 pada 2024. Tahun 2025 kembali naik menjadi 351.058. Angka 2026 yang tercatat 64.905 belum dapat dibandingkan dengan 2025 karena tahun berjalan belum selesai.
Persoalannya bukan semata-mata kurangnya buku. Minat kunjung dipengaruhi relevansi dan kualitas koleksi, pengalaman kunjungan sebelumnya, pelayanan pustakawan, fasilitas, kenyamanan, dukungan dunia pendidikan terutama sekolah dan perguruan tinggi, kebutuhan informasi, kualitas layanan, akses internet, dan pustakawan yang hadir sebagai mitra belajar, serta pengalaman pengunjung.
Bahkan, persoalan psikologis perlu diperhatikan. Penelitian terhadap mahasiswa pascasarjana UGM menemukan adanya library anxiety, yaitu rasa tidak nyaman, bingung, atau cemas ketika berhadapan dengan lingkungan dan layanan perpustakaan. Temuan ini mengingatkan bahwa perpustakaan yang baik bukan hanya lengkap secara koleksi, tetapi juga mampu membuat pengunjung merasa diterima dan percaya diri.
Karena itu, Hari Kunjung Perpustakaan seharusnya menjadi momentum mengubah cara pandang. Jangan bertanya hanya, “Berapa orang yang datang ke perpustakaan?” tetapi tanyakan pula, “Apa yang mereka dapatkan setelah datang?” Jika seseorang pulang membawa pengetahuan baru, menemukan solusi atas persoalannya, memperoleh inspirasi, atau terdorong untuk belajar lebih jauh, maka perpustakaan telah menjalankan fungsi yang sesungguhnya.
Mari datang ke perpustakaan bukan karena diwajibkan, tetapi karena membutuhkan pengetahuan. Mari menjadikan membaca bukan pekerjaan tambahan, melainkan kebiasaan. Dan mari membangun perpustakaan yang bukan sekadar ramai dikunjungi, tetapi hidup, relevan, inklusif, dan mampu mengubah pembacanya menjadi manusia yang lebih berpengetahuan dan lebih bijaksana.
